Sabtu, 4 Juli 2026, menjadi hari bersejarah bagi jutaan pengemudi ojek online (ojol) di Indonesia saat Inspektur Jenderal Polisi Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., resmi menutup masa jabatannya sebagai Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri di Markas Besar Polri.
Dikenal sebagai pelopor gerakan humanis, Agus berhasil merancang strategi komunikasi yang menghubungkan aparat kepolisian dengan komunitas ojol yang selama ini dianggap terpisah dan kaku.
Dalam pesan perpisahan yang disampaikan dengan penuh rasa terima kasih, Irjen Agus menyampaikan bahwa program “Polantas Menyapa” dan program kedekatan masyarakat lainnya telah diserahkan kepada Kapolri untuk arahan selanjutnya.
Ia menekankan pentingnya pendekatan humanis sebagai strategi utama menjalin sinergi efektif antara polisi dan pengguna jalan, khususnya bagi komunitas dengan risiko sosial dan ekonomi seperti pengemudi ojol.
“Dari kebersamaan itu, saya semakin memahami bahwa keluarga besar Ojol Nusantara bukan hanya bagian dari masyarakat pengguna jalan, melainkan mitra penting dan saudara seperjalanan,” ungkap Agus, menegaskan konsep sinergi kolektif dalam pengelolaan keamanan jalan.
Reaksi emosional juga datang dari Dianton, perwakilan Keluarga Besar Ojol Nusantara Provinsi Jambi, yang menilai kepemimpinan Irjen Agus sebagai transformasi paradigma kepolisian. Menurut Dianton, program “Polantas Menyapa” bukan sekadar prosedur administrasi, melainkan media membangun kepercayaan yang kompleks secara sosiologis dan psikologis.
“Pak Jenderal bukan sekadar pemimpin tapi panutan, sahabat, dan keluarga besar kami,” tegas Dianton, menggambarkan kedalaman hubungan sosial yang terbina selama Agus memimpin Korlantas.
Srikandi ojol dari URC Bergerak DKI Jakarta, Erna, turut menyatakan bahwa pengalaman berinteraksi langsung dengan Irjen Agus adalah kesempatan langka yang mengubah perspektif komunitas ojol terhadap aparat kepolisian.
Perpisahan ini menandai berakhirnya era polisi sebagai pelindung penuh kasih yang menghapus stigma marginal terhadap komunitas ojol di jalanan. Dua kalimat khas Irjen Agus, yakni “SENYUM POLANTAS ADALAH MARKA UTAMA. TUGAS ADALAH KEHORMATAN,” menjadi simbol penghormatan abadi bagi masyarakat ojol di seluruh Indonesia.
Meski Irjen Agus meninggalkan Korlantas untuk tugas baru, jejak humanisme dan strategi inklusif yang dibangunnya diyakini tetap menjadi landasan penting dalam memperkuat hubungan polisi dan masyarakat, khususnya komunitas ojol. Dengan doa dan harapan, jutaan pengemudi ojol menyertai langkahnya, mengukuhkan semboyan “Salam Satu Aspal, Jenderal.”





